Selasa, 24 April 2012

Karya tulis ilmiah


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dari sekian banyak  jurang perbedaan  yang ada di antara Negara berkembang dan Negara maju, salah satu perbedaan terbesar adalah risiko yang dihadapi ibu saat hamil dan melahirkan. Setiap tahun terdapat lebih dari 150 juta ibu hamil di Negara berkembang, sekitar 500.000 di antaranya akan meninggal akibat penyebab yang berkaitan dengan kehamilan, dan 50 juta lainnya akan menderita karena kehamilannya mengalami komplikasi. (Widyastuti, 2003)
Menurut WHO (World Health Organization) kematian maternal ialah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan. Sebab – sebab kematian ini yang langsung di sebabkan oleh komplikasi – komplikasi kehamilan. Angka kematian yang tinggi setengah abad yang lalu umumnya mempunyai sebab pokok yaitu masih kurangnya pengetahuan mengenai sebab – musabab dan penanggulangan komplikasi – komplikasi penting dalam kehamilan. (Saifuddin,2010). Menurut WHO (World Health Organization) bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia adalah 500.000 jiwa pertahun, kematian ibu tersebut terjadi di Negara berkembang sebesar 99%. (Manuaba, 2010)

 Angka Kematian Ibu (AKI) mengalami penurunan yang signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada periode 2004 sampai dengan 2007 terjadi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 307 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Namun keberhasilan tersebut masih perlu terus ditingkatkan, karena Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Target Millenium Development Goals (MDGs) Angka Kematian Ibu (AKI) pada Tahun 2015 yaitu sebesar 102/100.000 kelahiran hidup, dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator yang diramalkan sulit dicapai. (www.kesehatanibu.depkes.go.id)
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat Tahun 2009 masih tingginya Angka Kematian Ibu di Jawa Barat, ditunjukkan dengan Angka Kematian Ibu mencapai 708 dari 553.000 kelahiran hidup. (http:www.dinkes.jabarprov.go.id) Penyebab utama kematian ibu di Indonesia yaitu perdarahan, sepsis, hipertensi dalam kehamilan, partus macet, komplikasi aborsi tidak aman,  eklampsia. Risiko kematian ibu dapat ditambah dengan adanya anemia, defisiensi energi kronis, status sosioekonomi keluarga, pendidikan, budaya, akses terhadap fasilitas kesehatan serta transportasi.  (Saifuddin, 2010)
Pengetahuan tentang tanda bahaya pada kehamilan sangat membantu menurunkan AKI, deteksi dini gejala dan tanda bahaya selama kehamilan merupakan upaya terbaik untuk mencegah terjadinya gangguan yang serius terhadap kehamilan ataupun keselamatan ibu hamil. Di Puskesmas Cipelang Kota Sukabumi angka kematian ibu hamil sebanyak 19 orang, banyak faktor yang melatar belakangi terjadinya hal tersebut. Diantaranya faktor ketidaktahuan ibu hamil dalam mengenal tanda bahaya kehamilan. (Blog Keperawatan, 2010)  Berdasarkan studi pendahuluan di Puskesmas Garuda, dari 30 ibu hamil  (20%) yang mengetahui tentang tanda bahaya pada kehamilan, (20%) cukup mengetahui tentang tanda bahaya kehamilan dan (60%) kurang mengetahui tentang tanda bahaya kehamilan, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya pada kehamilan masih kurang, walaupun ibu hamil sudah mendapatkan buku KIA yang salah satu halamannya berisi pengetahuan tentang tanda bahaya pada kehamilan.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Hubungan Karakteristik Ibu Hamil Dengan Pengetahuan Tentang Tanda Bahaya Pada Kehamilan Di Puskesmas Garuda Kota Bandung Tahun 2011“.

B.  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang di kemukakan di atas, maka penulis menemukan masalah sebagai berikut : Adakah Hubungan Karakteristik Ibu Hamil Dengan Pengetahuan Tentang Tanda Bahaya Kehamilan Di Puskesmas Garuda Kota Bandung ?

C.  Maksud dan Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Mengetahui hubungan karakteristrik ibu hamil dengan pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Garuda Kota Bandung.
2.    Tujuan Khusus
a.       Mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu hamil dengan pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Garuda Kota Bandung.
b.      Mengetahui hubungan paritas ibu dengan pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Garuda Kota Bandung.
c.       Mengetahui hubungan umur ibu hamil dengan pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Garuda Kota Bandung. 

D.  Manfaat Penelitian
1.    Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat menjadi salah satu bahan masukan dan evaluasi bagi pihak yang terkait untuk meningkatkan kesehatan ibu menjadi lebih baik lagi dan untuk membantu program KIA dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI).
2.    Manfaat Teoritis
a.    Sebagai upaya memberikan pengalaman dalam menerapkan ilmu pengetahuan.
b.    Untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang tanda bahaya kehamilan.
c.    Sebagai bahan perbandingan penelitian selanjutnya, dokumentasi dan sebagai tambahan pustaka.

E.  Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup keilmuan dalam penelitian ini adalah kesehatan ibu hamil dan Ilmu Kebidanan tentang Askeb I Kehamilan yang di fokuskan pada pengetahuan ibu hamil tentang tanda – tanda bahaya kehamilan karena tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda – tanda bahaya kehamilan masih kurang dan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara karakteristrik ibu hamil dengan pengetahuan tentang tanda – tanda bahaya kehamilan. Ruang lingkup lokasi penelitian di Puskesmas Garuda Kota Bandung, penelitian ini menggunakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional, teknik pengambilan sampel yaitu menggunakan simple random sampling, sampel yang di teliti yaitu ibu hamil. Adapun teknik pengambilan data di lakukan melalui pengisian kuesioner secara mandiri, waktu penelitian yaitu pada bulan Mei    Juni 2011.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. KEHAMILAN
1.      Definisi
Kehamilan yaitu masa dimulainya konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari ( 40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi kedalam tiga triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. (Prawirohardjo, 2006)
2.      Proses Kehamilan
Proses kehamilan merupakan matarantai yang bersinambung dan terdiri dari : ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm. (Manuaba, 2010)
3.      Diagnosa Kehamilan
Menurut (Manuaba, 2010), lama kehamilan berlangsung sampai persalinan aterm adalah sekitar  280 hari sampai 300 hari. Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan, yaitu triwulan pertama (0-12 minggu), triwulan kedua (13-28 minggu), dan triwulan ketiga (29-42 minggu). Untuk dapat menegakkan kehamilan ditetapkan dengan melakukan penilaian terhadap beberapa tanda dan gejala kehamilan :
a.    Tanda Dugaan Kehamilan
1)      Amenorea (terlambat datang bulan)
2)      Mual dan muntah (emesis)
3)      Ngidam (wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu)
4)      Sinkope atau pingsan
5)      Payudara tegang
6)      Sering miksi
7)      Konstipasi atau obstipasi
8)      Pigmentasi kulit
9)      Varises atau penampakan pembuluh darah vena
b.    Tanda Tidak Pasti Kehamilan
1)      Rahim membesar, sesuai dengan tuanya kehamilan
2)      Pada pemeriksaan dalam, dijumpai tanda Hegar, tanda Chadwicks, tanda Piscaseck, kontraksi Braxton Hicks, dan teraba ballottement.
3)      Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif. Tetapi sebagian kemungkinan positif palsu.
c.    Tanda Pasti Kehamilan
1)      Gerakan janin dalam rahim
2)      Terlihat / teraba gerakan janin dan teraba bagian – bagian janin
3)      Denyut jantung janin. Didengar dengan stetoskop Laenec, alat kardiotokografi, alat Doppler.


4.      Pemeriksaan Kehamilan
Kunjungan antenatal sebaiknya di lakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan
1)        Satu kali pada trimester pertama (sebelum 14 minggu)
2)        Satu kali pada trimester ke dua (antara minggu 14-28)
3)        Dua kali pada trimester ke tiga (antara minggu 28-36 minggu  dan sesudah minggu ke 36).
(Prawirohardjo, 2006)

B. TANDA – TANDA BAHAYA
1.      Pengertian
Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang
mengindikasikan adanya bahaya yang dapat terjadi selama
kehamilan/periode antenatal, yang apabila tidak dilaporkan atau tidak
terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu (Pusdiknakes, 2003).
2.      Macam – macam tanda bahaya kehamilan
Ada 6 tanda bahaya kehamilan menurut (Prawirohardjo, 2006) :
a.       Perdarahan pervaginam
b.      Sakit kepala lebih dari biasa
c.       Gangguan penglihatan
d.      Pembengkakan pada wajah/tangan 
e.       Nyeri abdomen
f.       Janin tidak bergerak seperti biasanya
Menurut (Kusmiyati, 2008) tanda bahaya kehamilan dibagi menjadi 2 yaitu tanda bahaya kehamilan muda dan tanda bahaya kehamilan lanjut.
A.      Tanda bahaya kehamilan muda
1.    Perdarahan pervaginam masa hamil muda
Perdarahan pervaginam pada hamil muda dapat disebabkan oleh :
a.       Abortus
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu hidup diluar kandungan.
Abortus spontan adalah abortus terjadi secara alamiah tanpa intervensi luar (buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut.
Abortus buatan adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan.
Jenis abortus terdiri dari :
1)   Abortus imminens
Abortus yang mengancam, perdarahannya bisa berlanjut beberapa hari atau dapat berulang. Dalam kondisi seperti ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.  
2)   Abortus insipiens
Abortus insipiens di diagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks.
3)   Abortus incomplitus
Di diagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta), perdarahan biasanya terus berlangsung, banyak dan membahayakan ibu.
4)   Abortus komplitus
Hasil konsepsi lahir dengan lengkap, perdarahan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan akan berhenti sama sekali, karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh. 
5)   Abortus tertunda
Pada anamnesis terdapat buah dada mengecil, tanpa nyeri, perdarahan bisa ada/tidak. Pada pemeriksaan fisik dapat terjadi hilangnya tanda kehamilan, tidak ada bunyi jantung, berat badan menurun, fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan.
6)   Abortus habitualis
Merupakan abortus spontan yang terjadi tiga kali berturut-turut, etiologi abortus ini adalah kelainan genetik, kelainan hormonal dan kelainan anatomis.
7)   Abortus febrilis
Abortus yang disertai rasa nyeri/febris, pada anamnesa terdapat panas, perdarahan dari jalan lahir berbau. Pada pemeriksaan dalam ostium uteri umumnya terbuka dan teraba sisa jaringan, rahim maupun adneksa nyeri pada perabaan, fluksus berbau.
b.      Kehamilan ektopik
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi diluar rahim, misalnya dalam tuba, ovarium, rongga perut, serviks. Kehamilan ektopik dikatakan terganggu apabila berakhir dengan abortus atau ruptur tuba, kebanyakan kehamilan ektopik terjadi didalam tuba.
c.       Mola hidatidosa
Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan dimana setelah fertilisasi hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari villi korialis disertai dengan degenerasi hidrofik. Uterus melunak dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi yang normal, tidak dijumpai adanya janin, kavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti rangkaian buah anggur korialis yang seluruhnya atau sebagian berkembang tidak wajar berbentuk gelembung-gelembung seperti anggur.   
2.    Hipertensi gravidarum
a.       Hipertensi kronik
Hipertensi yang menetap oleh sebab apapun, yang sudah ditemukan pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu, atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca salin.


b.      Superimposed preeklampsi
Hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan dan diperberat oleh kehamilan.
3.    Nyeri perut pada kehamilan muda
Nyeri perut pada kehamilan 22 minggu atau kurang, hal ini mungkin gejala utama pada kehamilan ektopik atau abortus.
B.       Tanda bahaya kehamilan lanjut
Tanda-tanda bahaya yang perlu diperhatikan dan diantisipasi dalam kehamilan lanjut adalah :
1.      Perdarahan pervaginam
a.       Batasan
Perdarahan antepartum / perdarahan pada kehamilan lanjut adalah perdarahan pada trimester terakhir dalam kehamilan sampai bayi dilahirkan. Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang tidak normal adalah merah, banyak, dan kadang – kadang tapi tidak selalu disertai dengan rasa nyeri.
b.      Jenis-jenis perdarahan antepartum
1)    Plasenta previa
Adalah plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi sebagian / seluruh ostium uteri internum. (Implantasi plasenta yang normal adalah pada dinding depan, dinding belakang rahim atau di daerah fundus uteri).

2)    Solutio plasenta (Abruptio Plasenta)
Adalah lepasnya plasenta sebelum waktunya, secara normal plasenta terlepas setelah anak lahir.
3)    Gangguan pembekuan darah
Koagulopati dapat menjadi penyebab dan akibat perdarahan yang hebat. Gambaran klinisnya bervariasi mulai dari perdarahan hebat, atau tanpa komplikasi trombosis, sampai keadaan klinis yang stabil yang hanya terdeteksi oleh pemeriksaan laboratorium.
2.      Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala seringkali merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah serius adalah sakit kepala yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat, kadang – kadang dengan sakit kepala yang hebat ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayang.
3.      Penglihatan kabur
Masalah visual yang mengindikasikan keadaan yang mengancam adalah perubahan visual yang mendadak misalnya pandangan kabur dan berbayang. Perubahan penglihatan ini mungkin disertai sakit kepala yang hebat dan mungkin menandakan preeklamsia. 
4.      Bengkak di wajah dan jari-jari tangan
Bengkak bisa menunjukan adanya masalah serius jika muncul pada muka dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat dan disertai dengan keluhan fisik yang lain, Hal ini bisa merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau pre-eklamsia.
5.      Keluaran cairan pervaginam
Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina pada trimester 3, ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm (sebelum kehamilan 37 minggu) maupun pada kehamilan aterm, normalnya selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala.   
6.      Gerakan janin tidak terasa
Normalnya ibu mulai merasakan gerakan janinnya selama bulan ke 5 atau ke 6, beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika ibu berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik.
7.      Berat badan turun atau tidak bertambah

C.PENYULIT YANG MENYERTAI KEHAMILAN
Menurut Manuaba (2010), penyulit yang menyertai kehamilan yaitu :
1.    Hiperemesis Gravidarum
Muntah yang berlebihan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler pada lambung dan esofagus, sehingga muntah bercampur darah, hal tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran wanita hamil.

Kejadian hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti, tetapi beberapa faktor predisposisi dapat dijabarkan sebagai berikut :
a.       Faktor adaptasi dan hormonal
b.      Faktor psikologis
c.       Faktor alergi
   Gejala hiperemesis gravidarum berdasarkan tingkatannya :
1)   Hiperemesis gravidarum tingkat pertama yaitu muntah berlangsung terus, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, kulit dehidrasi, nyeri di daerah epigastrium dan lain-lain.
2)   Hiperemesis gravidarum tingkat kedua yaitu penderita tampak lebih lemah, gejala dehidrasi makin tampak mata cekung, lidah kering dan kotor.
3)   Hiperemesis gravidarum tingkat ketiga yaitu muntah berkurang, keadaan wanita hamil makin menurun : tekanan darah turun, nadi meningkat, dan suhu naik, keadaan dehidrasi makin jelas.  
2.    Anemia Pada Kehamilan
Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional karena mencerminkan nilai kesejahtraan sosial ekonomi masyarakat dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Kadar Hb 9-10 g% disebut anemia ringan, kadar Hb 7-8 g% disebut anemia sedang, kadar Hb < 7 g% disebut anemia berat. Bahaya anemia selama kehamilan dapat terjadi abortus, persalinan pre-maturitas, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 g%), mola hidatidosa, hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini.  
3.    Pre-eklamsia
Pre-eklamsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan
proteinuria yang timbul karena kehamilan. Tipe pre-eklamsia yaitu :
a.       Pre-eklamsia ringan
b.      Tanda dan gejala pre-eklamsia ringan yaitu tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam. Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam, kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu, proteinuria 0,3 g atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1 sampai 2 pada urine kateter atau urine aliran pertengahan.   
c.       Pre-eklamsia berat
Tanda dan gejala tekanan darah pre-eklamsia berat yaitu tekanan darah 160/110 mmHg, oligouria, urine <400 cc/24 jam, proteinuria lebih dari 3 g/liter, nyeri epigastrium, gangguan penglihatan, nyeri kepala, edema paru dan sianosis.
4. Eklamsia
Kelanjutan pre-eklamsia berat menjadi eklamsia dengan tambahan gejala kejang dan atau koma. Menjelang kejang-kejang dapat di dahului gejala subjektif yaitu nyeri kepala di daerah frontal, nyeri epigastrium, penglihatan semakin kabur dan terdapat mual dan muntah dan pemeriksaan menunjukan hiper-refleksia atau mudah terangsang, selama kejang-kejang dapat terjadi suhu naik mencapai 400 C, frekuensi nadi bertambah cepat dan tekanan darah meningkat, kejang dapat menimbulkan komplikasi pada ibu dan janin.

D.PENGETAHUAN
1.      Pengertian Pengetahuan
            Menurut Bloom pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengingatan atau pengenalan informasi dan ide yang sudah diperoleh sebelumnya. Menurut Gulo, (2005) Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek, ide, prosedur, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, atau kesimpulan.
2.  Penggolongan Pengetahuan
            Bloom mengelompokan pengetahuan kedalam Cognitive Domain (Ranah Kognitif), pada ranah kognitif pengetahuan ditempatkan sebagai urutan pertama karena pengetahuan merupakan unsur dasar untuk pembentukan tingkatan – tingkatan ranah kognitif berikutnya seperti pada:
a.    Pemahaman (comprehension)
Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui.


b.    Penerapan (application)
Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
c.    Penguraian (analysis)
Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut, melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan.
d.   Memadukan (synthesis)
Yaitu menggabungkan, meramu, atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru.
e.    Penilaian (evaluation)
Yaitu mempertimbangkan, menilai dan mengambil keputusan benar-salah, baik-buruk, atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif.
3.  Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan                     
a.    Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Menurut UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
       Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijakan. Sehingga pendidikan dan pengetahuan saling berkaitan, wanita yang berpendidikan akan membuat keputusan yang benar dalam memperhatikan kesehatan anak-anaknya serta kesehatan dirinya sendiri. (http//.Papua.web)
b.    Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang dilahirkan atau jumlah anak yang dimiliki baik dari hasil perkawinan sekarang atau sebelumnya.
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim dengan usia kehamilan 28 minggu (Pusdiknakes, 2001). Menurut Kamus Bahasa Indonesia, paritas yaitu keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan.
Semakin banyak paritas semakin banyak pula pengalaman dan pengetahuannya sehingga mampu memberikan hasil yang lebih baik dan suatu pengalaman masa lalu mempengaruhi belajar. Ibu dengan paritas tinggi lebih sering kontak dengan petugas kesehatan dan lebih banyak informasi kesehatan yang di dapat sehingga pengetahuan ibupun makin bertambah. (http//www.Marxist.)
Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal, risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. (Wiknjosastro, 2005)  
c.    Umur
Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Umur sangat berpengaruh terhadap kehamilan karena diharapkan organ reproduksi sudah siap dan matang dalam menghadapi kehamilan. (Notoatmodjo,2002)
Dalam kurun reproduksi sehat dikenal usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 – 30 tahun, kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia  di bawah 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun. (Wiknjosastro, 2005)   
Usia <20 tahun dianggap masih berbahaya untuk hamil dan melahirkan  karena organ – organ reproduksinya masih muda dan belum kuat sekali secara fisik, mental dan psikologis dianggap masih belum cukup dan dewasa untuk mengahadapi kehamilan dan persalinan. Dalam pengambilan keputusan masih tergantung karena pada umur terebut merupakan usia remaja, suatu usia yang kurang tepat dalam pengambilan keputusan karena kurang dalam pengalaman termasuk pengalaman hamil. Kesiapan fisik wanita untuk hamil di tentukan oleh 3 hal yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental dan kesiapan sosial ekonomi. Secara fisik di katakan siap hamil apabila telah menyelesaikan pertumbuhan terutama organ reproduksi. Kematangan ini baru dapat dicapai pada usia sekitar 20 tahun. Umur > 30 tahun dianggap sudah bahaya, sebab secara fisik sudah mulai menurun apalagi kalau jumlah kelahiran sebelumnya  sudah cukup banyak. Umur > 35 tahun dianggap berbahaya untuk hamil dan melahirkan karena alat reproduksi maupun fisik ibu sudah jauh menurun. Umur  ibu hamil dapat mempengaruhi pengetahuan ibu tentang tanda bahaya pada kehamilan karena semakin tua umur ibu maka pengalaman yang ibu dapat makin banyak sehingga pengetahuannya pun bertambah. (Wiknjosastro, 2002)
d.   Pekerjaan
Dalam pekerjaan selalu terdapat tuntutan perubahan kebutuhan yang cepat akan keterampilan dan pengetahuanlah yang diperlukan, maka orang yang bekerja akan memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi.
e.    Pengalaman
Menurut teori Detrminan perilaku yang disampaikan WHO, menganalisa bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu salah satunya disebabkan karena adanya pemikiran dan perasaan dalam diri seseorang yang terbentuk dalam pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan – kepercayaan, dan penilaian  - penilaian seseorang terhadap objek tersebut, dimana seseorang mendapatkan pengetahuan baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. (Notoatmodjo,2003)
f.     Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu. (Notoatmodjo, 2007)
g.    Sosial budaya
Sosial termasuk di dalamnya pandangan agama, kelompok etnis dapat mempengaruhi proses pengetahuan, khususnya dalam penerapan nilai-nilai keagamaan untuk memperkuat super egonya. (Notoatmodjo, 2003)
h.  Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Individu yang  berasal dari kelurga yang berstatus sosial ekonominya baik dimungkinkan lebih memiliki sikap positif memandang diri dan masa depannya dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah. (Notoatmodjo, 2003)  

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL, DEFINISI OPERASIONAL  
VARIABEL DAN HIPOTESIS

A.      Kerangka Konseptual              
Umur, pendidikan dan paritas ibu diduga berpengaruh pada tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya pada kehamilan. Umur ibu mempengaruhi seorang ibu hamil dalam pengambilan keputusan dan memelihara kesehatannya. Makin tinggi pendidikan ibu hamil makin tinggi pengetahuannya tentang tanda bahaya pada kehamilan dan semakin banyak paritas maka semakin banyak pengalaman yang dapat mempengaruhi pengetahuan tentang tanda bahaya pada kehamilan.

Gambar 3.1
Bagan Kerangka konsep


Variabel Independen                                           Variabel Dependen
 









Ket : Diteliti
Tidak diteliti
B.       Definisi Operasional


Tabel 3.1
Definisi Operasional
Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
Pendidikan
Jenjang Pendidikan formal tertinggi
yang dialami oleh responden sampai dengan saat ini.
Kuesioner
1.     SD
2.     SMP
3.     SMA
4.     PT
Ordinal
Paritas
Jumlah anak yang dilahirkan oleh responden sampai dengan saat ini.
Kuesioner
1.Primipara
2.Multipara
3.Grandemultipa
ra
Ordinal
Umur
Umur ibu pada saat dilakukan penelitian sampai dengan saat ini.
Kuesioner
1.    < 20 Tahun
2.     20 – 30 Tahun
3.> 30 Tahun
Ordinal
Pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan
Merupakan hasil tahu dari ibu hamil tentang tanda bahaya pada kehamilan
Kuesioner
Baik  > 75%
Cukup
60% -75%
Kurang Baik
< 60%
Ordinal

 C.      Hipotesis
Ada hubungan karakteristik ibu hamil dengan pengetahuan tentang tanda bahaya pada kehamilan.


BAB IV
METODE PENELITIAN

A.       Jenis dan Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode analitik. Rancangan survey pendekatan dengan menggunakan pendekatan cross sectional yaitu variabel independen dan variabel dependen di ukur pada saat yang sama.

B.       Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang melakukan pemeriksaan ANC di Puskesmas Garuda Kota Bandung pada bulan April Tahun 2011 sebanyak 212 orang.
2.    Sampel
            Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang di teliti (Arikunto, 2010). Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya, maka sebelum dilakukan pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi maupun kriteria eksklusi.
                 Kriteria inklusi :
1.         Ibu hamil yang melakukan pemeriksaan ANC di Puskesmas Garuda pada bulan April.
2.         Ibu hamil yang memahami bahasa Indonesia.
3.         Ibu hamil yang sehat.
4.         Ibu hamil yang tidak buta huruf.

                 Kriteria eksklusi :
1.         Ibu hamil yang mengisi kuesioner tidak lengkap
2.         Ibu hamil yang menolak untuk mengisi kuesioner

       Untuk menentukan besar sampel, digunakan rumus menurut        (Rahmat, 2005) sebagai berikut :
Keterangan :
N  = Besar Populasi
n   = Besar sampel
d   = Tingkat kepercayaan
Dengan rumus di atas maka sampel yang akan digunakan pada penelitian ini adalah dengan mengasumsi tingkat kepercayaan 10%.
       Jadi pada penelitian ini, peneliti menggunakan ukuran sampel sebanyak 68 orang. Adapun teknik  pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Sampel pada penelitian ini adalah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan ANC ( Antenatal Care ) di Puskesmas Garuda Kota Bandung pada bulan April 2011 yang memenuhi kriteria inklusi.

C.       Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu variabel bebas (variabel independen) dan variabel terikat (variabel dependen), variabel bebas pada penelitian ini adalah Karakteristik ibu hamil sedangkan yang menjadi  variabel terikatnya adalah pengetahuan.

D.       Instrumen Penelitian
Instrumen didefinisikan sebagai alat pengumpulan data yang telah baik atau memiliki standar validitas dan reliabilitas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Kuesioner terdiri dari 30 soal untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya pada kehamilan.

1.         Uji Validitas Pengetahuan
      Apabila bentuk item adalah dichotomous (correct/incorrect, true/false). Rumus untuk korelasi point-biserial pada item ke-i adalah:
                    dimana :        Rata-rata pada test untuk semua orang     
                         Rata-rata pada test hanya untuk orang-orang yang menjawab benar pada item ke-i
                          p  = Proporsi dari orang yang menjawab benar  pada item ke-i.
1- p = Proporsi dari orang yang menjawab salah pada item ke-i.
                                     Standar deviasi pada test untuk semua orang
                    (Arikunto,2010)
           
          Dari hasil uji validitas kuesioner penelitian yang dilakukan di Puskesmas Ibrahim Adji Kota Bandung kepada 20 orang Ibu Hamil  dengan jumlah pertanyaan 30 item, memiliki nilai korelasi diatas 0.444, artinya 30 item pertanyaan dinyatakan valid ( layak digunakan untuk penelitian ).

2.         Uji Reliabilitas
Teknik perhitungan koefisien reliabilitas yang digunakan disini adalah dengan menggunakan Koefisien Reliabilitas Kuder-Richardson (KR-20), metode ini merupakan koefisien reliabilitas yang dapat menggambarkan variasi dari item-item untuk jawaban benar/salah yang diberi skor 1 atau 0. Koefisien Reliabilitas Kuder-Richardson (KR-20) dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :


 


dimana : n = jumlah item                                         
             St2 = Varians total
              p  = Proporsi dari orang yang menjawab benar  pada item ke-i.
          1- p  = Proporsi dari orang yang menjawab salah pada item ke-i = q
(Sugiono,2007)

Berdasarkan hasil uji reliabilitas didapatkan nilai korelasi sebesar 0.931.  Hal ini menunjukan korelasi yang erat ( reliabel ), artinya jawaban responden terhadap item pertanyaan konsisten.
E.       Prosedur Pengambilan Data
Sampel dikumpulkan pada satu waktu yang kemudian diberi informed consent untuk persetujuan untuk bersedia menjadi responden, setelah itu peneliti menyebarkan kuesioner pada ibu hamil. Responden diberi penjelasan tentang tujuan penelitian yang dilakukan, dan kemudian responden diminta untuk mengisi lembaran kuesioner yang telah disediakan. Kuesioner yang digunakan berbentuk pernyataan, responden tinggal memilih jawaban benar atau salah. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner langsung. kuesioner yang diberikan langsung kepada orang yang diminta informasinya tentang dirinya sendiri. Lembaran kuesioner yang telah di isi responden kemudian dikumpulkan dan selanjutnya diolah.

F.       Pengolahan Data
Data yang terkumpul belum merupakan hasil yang tepat, karena belum dapat di baca dan hasil merupakan data yang mentah. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil  yang diinginkan diperlukan pengolahan dan analisis. Langkah yang dilakukan dalam pengolahan dan penganalisaan data sebagai berikut:
1.  Editing data
Dilakukan untuk memeriksa kelengkapan kuesioner apakah masih ada yang kurang lengkap atau jawaban yang kurang konsisten.
2.  Coding data
Yaitu mengubah jawaban yang berbentuk huruf kedalam bentuk angka sehingga memudahkan mengentry data.
3.  Tabulating data
Yaitu pengorganisasian data agar dapat dengan mudah dijumlahkan, disusun dan ditata untuk disajikan serta dianalisis.
4.  Entry data
Yaitu memasukkan data kedalam komputer untuk diolah dengan menggunakan software khusus.





G.      Analisis Data
1.    Analisa Univariat
Dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan proporsi dari masing-masing variabel yang diamati. Rumus yang digunakan menurut (Notoatmodjo, 2005) yaitu :
     `                           
Keterangan :    P   : Persentase
                              f   :  Frekuensi dari masing-masing variabel yang diamati
                   n   : Jumlah seluruh observasi  

2.      Analisa Bivariat
 
Dalam penelitian ini dilakukan analisis statistic dengan uji Chi-square yaitu :

Keterangan :         0 = Nilai Observasi
                             E = Nilai Ekspektasi
                             X = Statistik chi-square
(Sutanto,2008)

H.  Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Garuda Kota Bandung dengan waktu penelitian dilakukan pada periode bulan Mei sampai dengan Juni 2011.
I.     Etika Penelitian
1.      Peneliti terlebih dahulu meminta ijin dan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Bandung, Dinas Kesehatan Kota Bandung, Puskesmas Garuda yang digunakan sebagai tempat penelitian.
2.      Peneliti akan sangat menghargai dan menghormati subjek yang diteliti
3.      Peneliti memegang kerahasiaan segala sesuatu yang berkenaan dengan   informasi yang diberikan. Nama-nama subjek tidak akan disebutkan dalam laporan penelitian
4.      Membuat Informed consent  untuk persetujuan menjadi responden.







  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar