Jangan lupa, kapan pun anak mengalami
kondisi gawat darurat, ia harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit.
Tanda-tanda gawat darurat pada anak di antaranya rewel atau menangis terus
menerus tidak dapat ditenangkan, kesadaran menurun, tidur terus menerus, lemas
dan sulit dibangunkan, kejang atau kaku kuduk leher, sakit kepala hebat yang
menetap, gangguan napas yang menyebabkan bibir dan wajah membiru, muntah dan
diare terus-menerus, muntah menyemprot, dehidrasi, kejang berulang atau lama,
demam tinggi pada bayi kurang dari 6 bulan.
PANIK! Perasaan ini pasti pernah dialami oleh kebanyakan ibu
bila anaknya sakit. Apalagi kalau anak baru satu, rasa gelisah dan was-was saat
buah hati tergolek lemas, sering kali menyiksa. Wajar memang, tapi sedini
mungkin belajar mengatasi panik saat anak sakit sebetulnya akan sangat
menguntungkan bagi anak dan orang tua. Bahkan, berdamai dengan panik bisa
menghemat pengeluaran lho! Kok bisa?
Ya, karena panik ketika anak sakit, sering kali malah
menyebabkan ibu bingung. Padahal penyakit langganan yang kerap diderita anak
seperti demam, batuk, pilek, dan mencret, tidak selamanya memerlukan obat.
Mekanisme pertahanan tubuh manusia kerap ampuh melawan penyakit-penyakit ringan
tanpa butuh ke dokter atau minum obat. Yang sering terjadi, ibu akan buru-buru
membawa anaknya, yang demamnya baru sehari misalnya, ke dokter. Akibatnya,
kunjungan ke dokter malah lebih sering. Pengeluaran semakin membengkak, tubuh
anak pun kerap terpapar obat yang mungkin sebenarnya tidak perlu. Nah ,
panik memang merugikan bukan?
Saat yang tepat ke dokter
Jadi bagaimana agar ibu tidak panik ketika anak sakit? Knowledge
is power , begitu kata Sir Francis Bacon. Dalam hal ini, ibu perlu
membekali dirinya dengan mengenali tanda-tanda kapan anak harus dibawa ke
dokter dan kondisi gawat darurat pada anak. Pengetahuan tersebut akan membuat ibu
tenang dan lebih mudah memutuskan tindakan yang akan diambil. Kapan dokter
dihubungi?
Demam
Biasanya, anak baru demam ringan saja ibu sudah buru-buru
memberinya obat penurun panas, atau membawanya ke dokter. Padahal, kebanyakan
demam tidak berbahaya dan belum tentu memerlukan obat penurun panas. Namun ada
beberapa kondisi demam yang perlu diwaspadai. Dalam situs familydoctor.org ibu
dianjurkan menghubungi dokter bila:
- Bayi berusia kurang dari 3 bulan mengalami demam dengan
suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celcius.
- Bayi berusia 3 hingga 6 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh lebih besar dari 38,5 derajatCelcius.
- Bayi serta anak berusia di atas 6 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh di atas 40 derajat Celcius. Jika demam terus berlanjut lebih dari 72 jam, ibu juga perlu menghubungi dokter.
- Bayi berusia 3 hingga 6 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh lebih besar dari 38,5 derajatCelcius.
- Bayi serta anak berusia di atas 6 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh di atas 40 derajat Celcius. Jika demam terus berlanjut lebih dari 72 jam, ibu juga perlu menghubungi dokter.
Muntah dan diare
Anak mengalami muntah umumnya bersamaan dengan diare atau
penyakit perut lain yang disebabkan virus. Anak perlu segera dibawa ke dokter
bila ia muntah terus menerus, ada nyeri perut hebat, dan anak mengalami
dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi di antaranya buang air kecil menjadi jarang,
bibir kering, berat badan turun, mata cekung, pada bayi ubun-ubun besar
terlihat cekung, air kencing berwarna lebih tua dari biasanya, dan elastisitas
kulit menurun. Anak juga perlu dibawa ke dokter bila ia sama sekali tidak mau
minum, cairan muntahnya berwarna kehitaman atau kehijauan, cairan muntah keluar
menyemprot, dan bila muntah disertai sakit kepala hebat. Jika anak muntah
disertai adanya bintik-bintik merah muda atau keunguan yang tidak hilang saat
ditekan, sebaiknya anak pun dibawa ke dokter.
Begitu pula dengan diare. Anak yang diare perlu segera dibawa
ke dokter bila ia mengalami tanda-tanda dehidrasi seperti yang telah disebutkan
di atas. Dokter juga perlu segera dihubungi bila diare yang terjadi disertai
demam tinggi, terdapat darah dalam tinja, atau bila anak mengalami diare kronis
(lebih dari 2 minggu).
Batuk dan pilek
Sekalipun ingus yang keluar berwarna hijau, tak selamanya
anak dengan batuk pilek harus dibawa ke dokter. Batuk pilek umumnya disebabkan
virus, tak perlu antibiotika. Namun bila ingus kental berwarna hijau ini
berlanjut hingga lebih dari 2 minggu, barulah anak perlu dibawa ke dokter.
Dokter juga perlu dikunjungi bila anak mengalami batuk lebih dari satu minggu
atau anak mengeluh nyeri telinga. Prinsipnya, bila kondisi anak dengan batuk
pilek memburuk dalam 3-5 hari bawalah ia ke dokter. Akan tetapi, jika kondisi
anak tetap baik, biarkan daya tahan tubuh anak yang mengobati batuk pileknya.
Jika batuk pileknya tak kunjung sembuh dalam 10 hingga 14 hari, segera bawa
anak ke dokter.
Kondisi dikatakan memburuk bila anak mengalami batuk hebat
disertai sesak napas (bernapas dengan sekuat tenaga), tampak kebiruan di
sekitar bibir, mulut, dan wajah, batuk hebat disertai muntah-muntah, sangat
rewel, susah dibangunkan (letargi), mengalami dehidrasi, dan dahak mengeluarkan
darah.
Terdapat perkecualian pada bayi yang berusia kurang dari 3
bulan. Dokter tetap harus dihubungi bila si bayi mengalami batuk pilek atau
terbatuk-batuk selama beberapa jam.
Kondisi gawat darurat
Jangan lupa, kapan pun anak mengalami kondisi gawat darurat,
ia harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit. Tanda-tanda gawat darurat
pada anak di antaranya rewel atau menangis terus menerus tidak dapat
ditenangkan, kesadaran menurun, tidur terus menerus, lemas dan sulit
dibangunkan, kejang atau kaku kuduk leher, sakit kepala hebat yang menetap,
gangguan napas yang menyebabkan bibir dan wajah membiru, muntah dan diare terus-menerus,
muntah menyemprot, dehidrasi, kejang berulang atau lama, demam tinggi pada bayi
kurang dari 6 bulan.
Nah , bila Ibu sudah mengenali tanda-tanda kapan
anak perlu dibawa ke dokter dan kondisi gawat darurat pada anak, Ibu tak perlu
panik lagi bila anak sakit. Agar Ibu semakin tenang, sambil memantau kondisi
anak, Ibu bisa mencari informasi tentang gejala penyakit yang diderita anak
dari buku, internet, atau sumber-sumber yang dapat dipercaya. Dengan demikian,
pemahaman Ibu semakin bertambah, Ibu bisa bertindak tenang, tepat dan cepat.
Uang pun tak terbuang untuk hal-hal yang tak diperlukan, menguntungkan bukan?
Sumber : http://bidanpurnama.wordpress.com/2011/01/08/kiat-atasi-panik-saat-anak-sakit/